nikakim.biz

Arkib 09/2021

Sejak hampir 10 tahun yang lalu, saya tidak pernah runsing memikirkan soal jodoh dan perkahwinan. Setiap kali bertandang ke majlis kahwin atau hari raya, saya sering ditanya, "Bila hendak makan nasi minyak?" dan dengan selamba saya menjawab, "Belum ada beras untuk ditampi. Benih pun belum disemai, masakan menjadi padi apatah lagi bertukar menjadi nasi?"
Imam Nawawi selalu saya jadikan penanda aras bahawa tiada salahnya mati tanpa berkahwin. Jauh daripada itu, saya tidak mahu perkahwinan menjadi sesuatu yang rutin dan klise sama ada secara tradisi dilihat sebagai 'suami-isteri' atau secara moden dilihat sebagai 'biologi'.
Saya tidak terlalu kesepian tanpa wanita kerana seperti kata Albert Einstein bahawa selalu ada kesempatan untuk secangkir kopi bersama sahabat.
Malah saya reda jika membujang sehingga ke tua kerana saya juga khuatir jika isteri dan anak sebahagian daripada fitnah sebagaimana peringatan dalam Surah At-Taghaabun: 14-18.
Saya tidak malu untuk menjadi 'bujang terlajak' atau 'antertu' (anak teruna tua). Saya lebih malu jika menjadi suami atau bapa yang tidak berguna.
Doa yang selalu saya ulang baca, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Yang Maha Tunggal, jika berseorangan ini lebih baik bagiku maka matikan aku ketika bujang. Dan jika berkahwin itu lebih baik bagiku maka temukan daku dengan sebaik-baik wanita yang dapat memperbaiki diriku dan melengkapi hidupku."
Alhamdulillah hampir memasuki usia 35 tahun, barulah Tuhan makbulkan doa saya dan perancangan perkahwinan pun tidak sampai 3 bulan!
Walau pun kami tidak sempat bercinta seperti orang muda tetapi kami berjanji untuk menghabiskan masa tua bersama.
Selamat Ulangtahun Kedua Perkahwinan untuk isteriku Syafa Asmuni dengan ikat janji "Hanya kamu yang satu, tiada duanya."
#FaSya
2 jenis MLM yang merosakkan rumahtangga (hubungan):
1) Multi Level Marketing
2) Malas Lelaki Melayu
TUHAN PENCATAT GARIS TANGANKU
Setiap jelang tidur
Di langit-langit rumah aku tancapkan bisik; "buk, di tanahmu aku meninggalkan tembuni, di rahimmu aku meninggalkan perih"
Aku tidak akan mati di lepas pantai
Atau di liang langit,
Tetapi di dadamu, tempat aku pernah terbuai airmata dan tawa.
Tempat di mana kita kerap menghitung mimpi
Perjalanan tidak cukup sampai di sini
Pahit aku telan, getir aku sarungkan dalam sudut-sudut rahasia
Langkahku sebagai kembara, tidak akan semudah punah asap tembakau
Aku bukan kuasa, mengatur Tuhan seenak merebahkan kepala di bantal,
Sebab jauh di dasar paling sunyi, akulah yang paling paham, rongga niscayaku adalah takdir yang tidak semudah aku menguntai puisi
Sudahlah, bila pun batang-batang mimpiku patah,
Bukan sesal yang ingin aku sarungkan,
Tetapi langkah tegapku tidak akan layu karena keinginan yang sulit merambah di luar dayaku
Maka aku biarkan apasaja berlalu, sebab Tuhan adalah pencatat garis tanganku.
DianSi
Jakarta 31agustus2017
Sorry man teman, saya mau bersih-bersih akun, yang kira-kira dulu kita akrab lalu sudah berubah sikap karena ikut campur dalam persoalan oranglain yang mengaitkan saya, atau juga memang kita tidak pernah kontak sama sekali
Maaf, mumpung masih hari tasyrik adha, saya hapus akun anda dengan bahagia.
Salam
Survei membuktikan;
Perempuan yang belum menopouse, jangan diusik selama 5hari sebelum menstruasi, mereka bisa lebih galak daripada singa, bahkan nenek-nenek saja lewat dekat pasangannya bisa mereka terkam.
#tidak_semuanya
#efek_hormonal
DUGA
Dua tempat yang sangat ingin aku datangi; hatimu dan genangan yang kau sebut haru.
DianSi
Jakarta 13092017
Punya pasangan penyair, resiko kebakaran dan erosi mudah terjadi, tapi yang dibutuhkan bukan pemadam kebakaran atau robot super canggih untuk memasang pasak bumi.
Hanya membutuhkan mental yang kuat dan insting yang tajam.
#angkat_topi Dian Se
GEMPITA RINDU
Di tebing-tebing senja
Seribu mata puisi aku hidupkan
Untuk menyaksikan, betapa gempita kerinduan dari hatiku
Aku siapkan lagi, seribu berikutnya
Untuk aku tanam dalam ratusan sajak
Adalah namamu, yang tidak pernah jauh dari ingatanku
Menyulam anak-anak puisi
Di antara lipatan waktu yang terus melaju
Tidaklah lelapku tanpa mimpi
Tanpa membawa namamu di sela bibirku.
DianSi
Jakarta 20september2017
ADAM
Di pantai saat aku menuju laut
Aku berpikir akan mendayung di bawah matahari
Terbayang panas membakar kulit
Air laut bersuara resah, menyela
Kau datang dari gelombang
Sejak saat itu
Kota-kota dalam hatiku riuh
Sajak-sajak menyisir rambutmu
Musim-musim cahaya berlari di sela bibirmu
Semua serba lebih cepat
Seperti melesatnya anak panah
Pelukanmu selalu mendahului tenggelamnya matahari
Lalu duduk di bawah bulan
Membaca terang dari matamu
Sekujurmu bersuara rindu
Aku, menjelma kupu-kupu di dadamu.
DianSi
Jakarta 2017