nikakim.biz

TUHAN PENCATAT GARIS TANGANKU Setiap jelang tidur Di langit langit rumah aku tancapkan bisik buk di tanahmu aku meninggalkan tembuni di rahimmu aku meninggalkan perih

TUHAN PENCATAT GARIS TANGANKU
Setiap jelang tidur
Di langit-langit rumah aku tancapkan bisik; "buk, di tanahmu aku meninggalkan tembuni, di rahimmu aku meninggalkan perih"
Aku tidak akan mati di lepas pantai
Atau di liang langit,
Tetapi di dadamu, tempat aku pernah terbuai airmata dan tawa.
Tempat di mana kita kerap menghitung mimpi
Perjalanan tidak cukup sampai di sini
Pahit aku telan, getir aku sarungkan dalam sudut-sudut rahasia
Langkahku sebagai kembara, tidak akan semudah punah asap tembakau
Aku bukan kuasa, mengatur Tuhan seenak merebahkan kepala di bantal,
Sebab jauh di dasar paling sunyi, akulah yang paling paham, rongga niscayaku adalah takdir yang tidak semudah aku menguntai puisi
Sudahlah, bila pun batang-batang mimpiku patah,
Bukan sesal yang ingin aku sarungkan,
Tetapi langkah tegapku tidak akan layu karena keinginan yang sulit merambah di luar dayaku
Maka aku biarkan apasaja berlalu, sebab Tuhan adalah pencatat garis tanganku.
DianSi
Jakarta 31agustus2017
29/09/2021

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *